Kamis, 23 Maret 2017

DEMOKRASI & HAM VERSI KERAJAAN WAJO











JUAL E-BOOK
JUDUL         : DEMOKRASI &HAM VERSI KERAJAAN WAJO
HARGA       : Rp. 30.000.
Yang berminat hubungi Wirasandi Risani
No. HP         : 085 103481919
No. Rek       : 1520014105130






Sambutan


 
  
           
 Bahwa buku ini, yang ditulis oleh Muhammad Rizani Sjamsu Alam, dengan judul “ DEMOKRASI dan HAK ASASI manusia  versi KERAJAAN WAJO”. Adalah merupakan kearifan lokal suku Bugis. Tentunya diharapkan dapat lebih mendorong setiap suku bangsa lainnya, untuk berbuat hal yang sama dalam menggali dan melestarikan warisan budaya leluhur, khususnya yang menyangkut asas demokrasi dan hak asasi manusia. Harapan saya mudah mudahan isi buku yang sarat dengan nilai nila moral, leluhur, mampu  memberikan inspirasi guna membangun National and Character Building bangsa Indonesia. Dan dapat memberi manfaat terhadap kajian, perbandingan, untuk dijadikan rujukan dalam memperkaya khasanah ketatanegaraan dan hak asasi manusia. Serta praktek politik masa kini, dan masa depan bangsa Indonesia, yang lebih terhormat dan bermartabat. Dalam hal ini tentunya tergantung kepada kearifan seseorang untuk menilai dan mengjawangtahkannya terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara  republik Indonesia.
                   Terima kasih

   
           Prof.DR.H.R.Sri Soemantri. M.SH
     Guru besar Univ.Pajajaran Bandung





Kata Pengantar
Ilmu Sejarah dapat dikatakan sebagai  induk  ilmu pengetahuan manusia, karena hanya ilmu sejarah satu satunya ilmu yang dapat melukiskan semua peristiwa, kejadian dan ilmu pengetahuan  masa lalu  hingga  hari ini.   Ilmu sejarah sebagai  induk  ilmu pengetahuan, maka segala peristiwa dan kejadian yang terkandung didalamnya dapat dipetik sesuai esensi  aksiologi yang diinginkan. Buku   berjudul “ Demokrasi & Hak Asasi Manusia versi Kerajaan Wajo   adalah sebuah sejarah perjalanan panjang salah satu  suku bangsa Indonesia,  yaitu suku Bugis, di Kerajaan Wajo  Sulawesi selatan zaman dahulu. Ketika kita bicara tentang sejarah  maka tidak terlepas dari masalah peradaban,  adat istiadat, budaya suatu suku bangsa.  Sebagaimana diketahui bersama bahwa jatidiri suatu suku bangsa, ditentukan oleh budayanya.  Oleh karena itu sebuah Warisan Budaya (Cultural Heritage) suku Bugis pada zaman Kerajaan Wajo abad XV,  atau Kabupaten Wajo Provinsi Sulawesi Selatan saat ini. Warisan budaya  tersebut coba kami angkat kepermukaan dengan tulisan berdasarkan kaidah kaidah landasan yang bersifat ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Kaidah yang bersifat  ontologi secara empiris  telah menunjukkan sebuah budaya , tentang   peradaban manusia di Kerajaan Wajo masa lampau, yang telah ikut memberi warna,  tentang makna dan arti akan   hakikat sebuah budaya manusia, untuk  mengatur hidupnya,  baik secara individual maupun secara berkelompok,  dalam tatanan  bermasyarakat, berbangsa di kerajaan Wajo abad XV.  Secara epistimologi  buku ini mencoba mengkaji lebih mendalam tentang berbagai filsafat, adagium yang berkenaan dengan filsafat  hidup, filsafat  moral dan etika, serta filsafat bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.  Dan secara Aksiologi  buku ini ditulis dengan tujuan bagaimana sebuah kearifan lokal  yang mengandung  nilai nilai luhur sebagai bahan kajian dan komparatif terhadap sistim Demokrasi dan Hak Azasi Manusia di Indonesia saat ini yang diadopsi dari barat.  

Bersambung…………………….
Selanjutnya prinsip umum yang mengendalikan kehidupan ketatanegaraan dan perlindungan hak asasi manusia  zaman lampau, pada masyarakat  suku Bugis, yang diangkat dari sekelumit  kandungan buku Lontara “La Toa “ . Dan  beberapa naskah lontara lainnya  serta  khusus Tana Wajo diangkat dari sebagian isi buku “Lontara Sukkuna Wajo”. Dimana  buku ini diharapkan dapat memberi manfaat terhadap, kajian perbandingan  yang dapat saling melengkapi pandangan dalam memperkaya, ketatanegaraan dan hak asasi manusia,  serta praktek politik masa kini dan masa depan tanah Air Indonesia. Dalam hal ini  tergantung pada kearifan setiap orang untuk menilai dan memanfaatkannya dalam kehidupan. Itulah antara lain yang menjadi maksud dan tujuan penggalian dan pemberdayaan,  khasanah kebudayaan yang merupakan kearifan lokal  setiap suku bangsa di Indonesia.

Bahwa berbagai upaya kaum intelektual orang Wajo  dimasa lampau,  dapat  dikatakan merupakan sesuatu  warisan yang amat berharga,   ibarat sebutir mutiara yang terpendam  dalam laut . Buku “Lontara Sukkuna Wajo adalah salah satu dari  mutiara yang terpendam  itu. Karena itu sampai dimana kemampuan kita mengangkatnya  kepermukaan,  sehingga dapat bermanfaat untuk   menambah  rangkaian    untaian  mutiara yang sudah ada.
Di tanah Bugis , rakyat  sudah  ada lebih dahulu   daripada  raja.  Sebuah adagium dari Lontara La Toa menyatakan bahwa :  Raja tanpa Rakyat bukanlah Raja, sementara Rakyat tanpa Raja, tetaplah ia Rakyat.  Pemikiran inilah  kemudian  melahirkan   salah satu bentuk   tradisi budaya  Bugis, dalam Lontara “Sukkuna Wajo”  menyebutkan bahwa,  apabila  rakyat tidak  senang  dengan  cara cara seorang raja menjalankan  pemerintahan,  maka rakyat  dapat  saja bertindak memakzulkan, atau melakukan apa yang disebut  Mallekke dapureng  (berpindah tempat),   ketempat lain untuk mendirikan komunitas baru yang lebih terhormat dan bermartabat.
Ada beberapa hal  pemikiran dalam peradaban budaya Bugis dahulu kala,    dapat disejajarkan  dengan  berbagai  gagasan  tentang  pluralisme  dan hak asasi manusia,   yang selalu menjadi topik pembicaraan hangat dalam percaturan  dunia global saat  ini,  yang menaruh hormat   terhadap  berbagai gagasan tentang  bagaimana  membangun kesamaan pandangan,    untuk  bertindak dengan menempatkan  factor kemanusiaan pada level  tertinggi.  Hal yang sama juga tercermin    bagaimana kebudayaan Bugis menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia.  Seperti halnya  dalam  kesetaraan gender,  bukan hanya pada  laki laki dan perempuan, tapi juga  bagi gender ketiga,  keempat dan ke Lima  (calabai, calalai dan Bissu), dan bagaimana perempuan  menduduki tempat yang benar-benar sejajar dengan lelaki, dengan kemampuan   menjadi  raja yang setara dengan laki laki dalam menjalankan roda  pemerintahan  dan kebijakan-kebijakan kerajaan. Pada  sejumlah peristiwa, perempuan Bugis telah mampu memperlihatkan  keberaniannya, dalam menandaskan keputusan-keputusan penting yang mempertaruhkan masa depan kerajaan. Kesetaraan gender dan penyediaan ruang pada gender yang lain,  itu adalah sebagian dari hal-hal yang membuat tercengang,  banyak penjelajah Eropa yang pernah singgah di tanah Bugis. Dan  mereka  mengakui   kalau memang banyak hal  dalam  peradaban suku    Bugis yang tampak mendahului zamannya, 







Kamis, 16 Maret 2017

MANUSIA HANYA SATU RAGANYA YANG BANYAK









JUAL E-BOOK
JUDUL : MANUSIA HANYA SATU RAGANYA YANG BANYAK
HARGA ; Rp. 30.000.
YANG BERMINAT HUB. WIRASANDI RISANI
NO.HP 085103481919
NO.REK. 1520014105130 BANK MANDIRI
AN. WIRASANDI.....

BAB I

LATAR BELAKANG

Bahwa budaya yang menjiwai orang orang Bugis, bukan hanya menyangkut, peradaban, adat istiadat, tapi juga  hubungan antar sesama manusia,  dan hubungan manusia dengan Tuhannya. Gabungan kedua kutub  ini,   menyatu dalam jiwa manusia Bugis, yang kemudian melahirkan sebuah ilmu yang disebut, “Ilmu Pappejeppu”. sebagai salah satu wujud budaya  dalam kehidupan. Ada satu hal pemahaman dalam budaya mereka ketika ia berdiri pada sebuah keyakinan dengan memegang prinsip bahwa ; Seddimi Tau, Watanna mi maega artinya, Pada hakikatnya manusia hanya satu, hanya raganya saja banyak. Rupanya pemahaman inilah yang kemudian melahirkan sebuah bentuk ilmu hakikat sebenarnya tentang Manusia, yang disebut Ilmu Pappejeppu. Ungkapan pengertian Seddimi Tau  (Manusia hanya satu), hanya dapat dimengerti dan   dipahami oleh orang orang yang telah mengenal dan  mendalami   ilmu  tersebut. Mungkin saja ada bentuk pemahaman dan keyakinan atau  filsafat yang juga mengatakan  bahwa Manusia hanya Satu,  oleh suku bangsa atau bangsa lain, namun bentuk aplikasi dan implementasinya didalam ilmu ini, dimana penulis yakin akan berbeda. Karena Ilmu Pappejeppu bukanlah ilmu pengetahuan tentang  filsafat atau ilmu   tasawuf, walaupun  didalam ajaran ini banyak  dukungan  dari  kandungan nilai nilai filsafat dan tasawuf. Yang hanya digunakan untuk menjelaskan sesuatu, guna lebih memudahkan pengertian ilmu ini. Sebab ilmu ini  sebagaimana dikatakan bahwa ; “ Tennaoki kalla, tennaleppai lila, tenna iringngi anging, tennawenrui nawa nawa.”  Artinya : “ Ilmu ini tidak dapat ditulis dengan pena, tidak bisa diucapkan oleh lidah, tidak disentuh oleh angin, dan tidak dapat dihayalkan oleh pikiran.”  Oleh karena itu setiap manusia  dapat saja mengetahui  atau mendalami ilmu  ini,  dengan terlebih dahulu mencari  orang orang yang memahami  untuk  dapat  belajar darinya,  walaupun itu tidak mudah. Dengan melihat  masalah ini, dimana semakin hari semakin berkurang orang yang mengetahuinya,  tentu  pada akhirnya ilmu ini akan menghilang,  sebab itu penulis memberanikan diri untuk menulis tentang ilmu ini dan kharasteristiknya, agar ilmu ini tidak ditelan bumi. Dan sebagai langkah awal, bagi yang ingin mendalami ilmu ini, wajib memahami dan meyakini bahwa dalam diri manusia, disamping raganya, juga terdapat ROH dan NYAWA, didalam ilmu Pappejeppu, dipahami bahwa ROH adalah  percikan cahaya yang terpolarisasi dari Nur Ilahi, sedang NYAWA adalah  seberkas percikan cahaya yang terpolarisasi dari NUR Muhammad, polarisasi kedua cahaya tersebut kemudian bersinergi, yang  melahirkan letupan yang disebut Napas. Peranan dan manifestasi Napas inilah yang kemudian menjadi inti ajaran ilmu Pappejeppu. Dari napas tersebut kemudian memancarkan lagi polarisasi ke berbagai cakrawala,  dari segala penjuru alam pemikiran manusia, yang kemudian melahirkan   cabang cabang tempat bertenggernya ilmu pengetahuan (Science), Filsafat, Ilmu Metafiska, Ilmu Mistik, dan Ilmu mantera.   Adapun ilmu mistik dan ilmu mantera   nampaknya luput dari perhatian,  baik yang  mendalami Ilmu Tasawuf atau Sufisme,  ataupun ilmu Pappejeppu itu sendiri. Korelasi napas yang terpolarisasi, kedalam bentuk ilmu Mistik, dan ilmu mantera, juga memberikan inspirasi, dan analisa, bahwa peranan napas pada setiap manusia telah menanamkan  keyakinan tentang prinsip Seddimi Tau atau   manusia hanya satu.    hal ini oleh penulis mencoba mengungkap, pada buku  ini, pada bagian lainnya.   Karena kurangnya  orang mengetahui  apalagi memahami prinsip Seddimi Tau atau manusia hanya satu,    padahal ilmu ini  memiliki  prinsip  nilai filosofi tentang,  hidup  yang sangat mendalam. Sehingga dapat meciptakan hubungan manusia dengan manusia secara harmonis tanpa memandang Suku (Etnis) Agama, Ras, dan kedudukan sosial. Karena pada prinsipnya Seddimi Tau  adalah bahwa apa yang ada pada diri kita sama dengan apa yang ada  pada seluruh Manusia lainnya atau dengan kata lain bahwa sesungguhnya yang disebut hakikat manusia itu adalah satu adalah ROH yang digerakkan oleh NYAWA dan dimediasi oleh NAPAS. Sehingga dengan demikian ROH inilah  yang merupakan wujud  kesamaan manusia dengan manusia lainnya, sehingga  terciptalah  pemahaman bahwa sesungguhnya manusia itu hanya satu, sebab pemahaman ini mengatakan  bahwa ROH yang ada dalam diri kita sama dengan ROH yang ada pada manusia lainnya.  Sehingga hal ini akan melahirkan  persaudaraan  yang kuat  untuk dapat menciptakan, hubungan manusia dengan sesama manusia    guna membina   kehidupan bermasyarakat dan berbangsa maupun dalam menciptakan perdamaian didunia. Oleh karena itu dalam budaya Bugis Makassar, makna Saudara atau persaudaraan memiliki makna filosofi tersendiri,  sebagaimana kata “Saudara” kalau dalam bahasa Bugis disebut Silessureng artinya : Satu keluaran,   ibaratnya Satu Industri yang memproduksi  Satu merk mobil. Silessureng atau Satu asal tempat keluar, memiliki  arti bahwa kita manusia Satu keluaran dari perut seorang Ibu. Begitupula dalam bahasa Makassar disebut Sarebattang  artinya Satu perut.  Satu perut artinya bahwa kita semua manusia bersaudara karena kita berasal dari Satu perut seorang Ibu. Oleh karena itu di daerah Bugis Makassar dahulu, apabila seseorang dikenal atau belum dikenal datang bertamu dirumah orang Bugis Makassar, dan dijamu oleh tuan rumah maka tuan rumah akan mengatakan bahwa karena anda sudah meminum air dirumahku maka secara tidak langsung kita telah mengikat persaudaraan. Dan menurut seorang Ahli Anthropologi  budaya Bugis berkebangsaan Australia yang bernama Leonard Y. Andaya mengatakan bahwa : Belum pernah saya melihat suku bangsa yang memiliki tingkat persaudaraan yang begitu tinggi seperti yang dimiliki oleh suku Bugis Makassar,  karena apabila ada orang lain yang sudah dianggap saudara oleh orang Bugis Makassar mengalami masalah, maka selain isteri dan anaknya, maka apa yang ada pada dirinya ia akan berikan bahkan bila perlu nyawanyapun ia pertaruhkan. (Orang Bugis Makassar dahulu). Secara Ontologis   bahwa Ilmu Pappejeppu ini telah dikenal dikalangan orang Bugis, jauh sebelum ajaran Islam masuk ke wilayah daerah Bugis.

Salah satu pengertian ilmu Pappejeppu tidak hanya berada dalam alam gaib, yang tidak memiliki wujud realita tertentu, dan hanya dapat  dihayati dan direnungkan dalam aktivitas narasi manusia, tapi juga yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana mewujudkan dari alam ghaib ke alam nyata menjadi sesuatu yang bermanfaat, atau sesuatu yang dapat dipetik hasilnya, dari hasil Pappejeppu yang bersumber dari pemahaman,  interaksi antara manusia dengan Tuhannya. Perbedaan lain antara ilmu tasawuf atau Sufisme dengan ilmu Pappejepu, dimana sebelum memasuki ajaran ilmu Tasawuf atau Sufisme,terlebih dahulu seseorang harus   masuk kedalam salah satu aliran Tariqat, katakanlah salah Satu  aliran Tariqat yang dikenal di Indonesia,  adalah aliran Tarekat Naqsyabandiah. Bahwa seseorang yang masuk kedalam aliran Tariqat ini, terlebih dahulu ia harus di bay’at atau disumpah , sebagai bentuk kesetiaan dan kepatuhan yang mengikat dirinya terhadap Mursyid atau syaikh, maupun terhadap aliran itu. Sedang dalam menuntut ilmu Pappejeppu, seorang murid, tidak ada suatu keterikatan baik terhadap Guru pembimbing maupun terhadap aliran. Karena ilmu Pappejeppu tidak memiliki aliran, hanya satu hal yang menjadi Sumpah seseorang murid terhadap Gurunya adalah sang murid dilarang keras mengajarkan ilmu tersebut kepada siapapun tanpa ada izin dari Guru pembimbing. Dalam ilmu Pappejeppu, sebenarnya tidak dikenal Guru dan Murid, seseorang yang mengajarkan dengan menunjukkan jalan tentang tata cara Mappejepu (Memahami), itu hanya sebuah panggilan, untuk berbagi ilmu. Dan tidak menutup kemungkinan  dikemudian hari sang murid lebih mendalam pemahamannya dari sang guru. Karena semua itu tergantung pada orang yang mendalaminya. Dari uraian tersebut diatas bila ditinjau dari segi filsafat Ontologi, ILMU ini tidak didapatkan satupun  dalam bentuk sebuah naskah tulisan,  karena hal ini sifatnya sangat sakral. Dan hanya dapat dibuktikan dan dirasakan serta diyakini sebagai sebuah bentuk kebenaran oleh pengamal pengamal ilmu Pappejeppu, secara  turun temurun dari dahulu kala, oleh orang orang Bugis, sebelum mereka menganut Islam. Dan ilmu  inilah yang membuat  semakin menambah keyakinan mereka, dalam mengamalkan Ilmu Pappejeppu akan kebenaran ajaran Islam, baik dari sisi Syariat maupun sisi Tasawuf (Filsafat).  Sebagaimana mereka meyakini kebenaran sudah hakiki sebelum diucapkan.

Bahwa hakikat “Seddimi tau” atau manusia hanya satu, bukan hanya melahirkan nuansa ilmu  kebatinan, yang kemudian melahirkan ilmu Pappejeppu itu, tapi jangkauannya bisa lebih jauh masuk kedalam ilmu tasawuf. Sementara Tasawuf selalu memainkan peranan yang sangat penting dalam sejarah, agama,dan budaya di kawasan nusantara yang maha luas ini.

Dalam berbagai fenomena kehidupan moral yang dialami bangsa saat ini, dimana factor agama dan pendidikan tidak mampu lagi, menanggulangi berbagai problem perilaku masyarakat yang sangat ekstrim saat ini. Hampir setiap hari kita disajikan oleh baik media cetak maupun media electronic berbagai macam pelanggaran dijalan yang sering memakan korban,  tawuran kelompok,etnis,antar pelajar, seks bebas, perkosaan,  KDRT,   bunuh diri  perampokan, penganiayaan, pembunuhan,  narkotika, Korupsi.  Semuanya itu semakin menambah daftar panjang bukti-bukti bobroknya akhlak manusia saat ini. Sehingga ada pandangan yang  mengatakan  bahwa : Saat ini “SUDAH HUJAN AYAT, BANJIR HADITS, TAPI IMAN HANYUT”



Minggu, 12 Maret 2017

Tak Mau Jadi Korban Asmara


 JUAL E-BOOK.
JUDUL : TAK MAU JADI KORBAN ASMARA.
HARGA ; Rp. 20.000.
YANG BERMINAT HUB. WIRASANDI RISANI
NO.HP 085103481919.
NO.REK. 1520014105130 BANK MANDIRI
AN. WIRASANDI.....

Episode I
PASANGGARAHAN TINGGAL KENANGAN
Setiap sabtu kami selalu datang bertemu di sebuah bukit dalam kota Sengkang kami duduk diatas sebauh bangku bangku memandang kebawah kota Sengkang dan danau Tempe sambil bercanda, kaki kami sesekali tersentuh dan mempermainkan tumbuhan bunga didepan kami. Semilir angin yang berhembus sepoi sepoi membuat kami saling memandang yang semakin menambah sejuknya perasaan
Saat ini aku sedang menunggu, Namun hari memintal minggu, minggu merajut bulan, dikala fajar menyingsing aku kirim salam. Karena kuyakin cahaya Matahari kan melewati dirimu, Tengah malam dibalik tidur ku mengenangmu, Tetap saja semua hening. Sejak kau pergi, ku masih saja menantimu, hingga kau kembali dan takkan tinggalkan ku lagi, entah kapan….
Tanpa terasa pakaianku basah menyaksikan matahari di ufuk barat perlahan tenggelam menuju pembaringan. Di bangku ini kami dipertautkan oleh cinta, namun sekolah telah memberi jarak aku dengannya. Berat hati kami harus berpisah, demi masa depan yang dicita citakan bersama. Saat dia membisikkan selamat tinggal, aku hanya bisa tunduk terharu menitikkan air mata.
Setahun berlalu sudah, Sangeang telah mengabariku bahwa ia akan pulang berlibur, rasanya kutak tahan lagi ingin berjumpa, dan kala malam datang, seiring rasa kantuk namun aku tak mampu memejamkan mata, kala Subuh menjelang, aku bangun dan aku mendengar puji-pujian kepada Tuhan, berkumandang dari Mesjid. Akupun pergi berwudhu, aku Sholat dan berdzikir di atas hamparan keabadian yang tersembunyi di balik relung hati, itu ada kekuatan arus menyanyi bersama angin. Namun waktu kedatangannya yang dijanjikan itu tak pernah dipenuhi.
Seiring waktu berjalan aku terus menanti, bilakah ia kembali walau hanya sekejap, karena aku rindu, walau ia datang hanya sebatas bisikan, walau ia hanya datang sekedar untuk bertanya tentang keadaanku. Aku sepertinya tidak tahan lagi didera kerinduan dan waktu. Hanya satu yang kusayangkan, mengapa ketika kami akan berpisah, orang tuaku belum mampu membelikan aku Hand Phone, dimana aku butuh bicara dengan Sangeang di Bandung, aku hanya bisa bicara lewat Hand Phone teman, itupun paling hanya dapat bicara 2 kali seminggu.
Menjelang setahun lebih, orang tuaku baru dapat membelikan aku Hand Phone, tapi mengapa justeru Sangeang jarang sekali mau meneleponku. Hingga suatu saat aku meneleponnya, sepertinya ia malas bicara dan terasa hambar. Sadar aku melihat hal ini, maka aku harus menentukan sikap, bahwa aku tidak bisa lagi mengharap orang lain untuk ikut menentukan hidupku.
Kedatangan ke Pasanggarahan kali ini, hanya untuk menegaskan bahwa ditempat ini dulu kita pernah memadu janji, ditempat ini pula aku putuskan kita kan berpisah untuk selamanya, karena sudah lima belas purnama aku menunggu, dan ini bukan waktu yang singkat, untuk sebuah penantian kabar berita. Aku segera bergerak diam diam turun dari bangku, dan mulai melangkahkan kaki dipinggir hijaunya rumput, kutinggalkan jejak diatas tanah merah, yang akan terhapus oleh turunnya hujan. Ingin rasanya melepas kehausan rindu, namun semakin aku haus, hanya ada satu cara yaitu mencoba untuk tidak mengenangnya. Tapi napasku dipenuhi segenap relung hatinya, diiringi kecupan-kecupan kasih sayang, tapi beritanya pantas diwarnai kebimbangan, sementara aku sabar dan tenang serta berusaha menjaga diri, agar kekuatan cintaku tidak menyusut. Mungkin aku adalah pemuja cinta dari kebenaran cinta yang perkasa. Tapi mungkin juga kelelahan cinta akan menerpaku dan aku tak berdaya. Barangkali masih ada jalan lain menantiku, karena aku tidak mau menangis lagi, karena rajut kerinduanku telah terputus tanpa janji.
Karena itu pantaskah aku tunduk terbawa arus nasib, sementara hatiku masih ragu, jangan sampai aku jatuh terduduk dalam kepasrahan dan hanya bersandar ditakdirku, dengan menunggu sesuatu yang tidak berkesudahan. Karena kesetiaan hanya nampak ketika sisi lain muncul penghianatan. Tiba tiba seperti ada bisikan berkata “Oh Simpurusia sadarlah bahwa cinta yang terlalu dan melampaui batas, adalah tanda yang akan membuahkan kebodohan.
Aku berlari menuju rumah di tengah remang remang cahaya purnama. Ayah ibu dan saudaraku telah was was menantikan. Secara bersamaan ayah, ibu dan adikku bertanya : Darimana ?
Ibuku lanjut bertanya : Dari mana kau Simpur? Apa kau lupa kalau sekarang sudah magrib?
Aku menjawab : Iya bu, aku sempat ditahan teman sehingga aku terlambat pulang.
Ibu berkata : Sana.. cepat ambil wudhu dan sholat.
Aku menjawab : Iya bu...
Selesai sholat, akupun ke meja makan untuk santap malam. Namun santapan malam kali ini terasa hambar. Sementara bintang di persada angkasa tak lagi cukup menghangatkan kedinginan dalam kesendirian, menikmati renungan pelita hati, dengan membayangkan sang pangeran dirantau tidur lelap dalam mimpi. Sementara aku dipembaringan ini hanya berselimutkan kecewa. .
Sangeang bukanlah insan biasa dikotaku, ia adalah manusia pilihan yang dikaruniakan Tuhan pada orang tuanya, juga manusia dambaan bagiku, dan lelaki idaman setiap wanita yang mengenalnya. Kala itu hari lagi cemerlang, secemerlang bisikan cintanya padaku, hingga menggulung jarak ombak asmara diantara kami, menuju sebuah pulau harapan. Sapu tangan kecilnya adalah rajut pemberian sebagai penghangat cintanya, masih mendekam dalam setiap desah napasku. akankah tersapu oleh awan yang ber-arak, karena kini hangatnya bintang lazuardi tak mampu lagi menghangatkanku.
Di bawah naungan langit biru dengan segala hiasannya yang indah tiada tara Di atas hamparan bumi, dengan segala lukisannya yang panjang terbentang Masih kudapatkan dan kurasakan. Curahan rahmat dan berbagai ni'mat yang kerap kau berikan, tapi bila tiba waktu berpisah, kulangkahkan kaki bersama ayunan langkah dan kupejamkan mata bersama orang-orang yang kucintai Masih kudapatkan dan kurasakan keramaian suasana dan ketenangan jiwa. Tapi bila tiba waktu berpisah, akankah kupergi seorang diri tanpa bayang-bayang mereka yang akan menemani, ketika kulalui jalan-jalan yang berdebu, yang selalu mengotori tubuhku. Setiap kegagalan yang membawa kekecewaan, setiap kenyataan yang menghadirkan penyesalan masih bisa kudengar dan kurasakan. Suara-suara yang menghibur untuk menghapus setiap kecewa dan sesal.
Karena kini aku berdiri tegar menyambut fajar sedang menyingsing, merekah membawa aroma pagi hinggap di pangkuanku terlihat Indah, sejuk terasa menanti bahagia dalam kesabaran. Namun, Yah..., sekarang engkau ibarat matahariku yang dulu indah, dan kini tenggelam di ufuk barat bersama awan hitam. Aku dan kamu, dalam perpisahan tanpa tetesan air mata, karena sadar aku akan terus bersinar, dan tak akan meratapi takdir, Aku akan menjadi rembulan yang indah yang akan bersinar diantara kegelapan, dan akan menjadi bintang gemerlap diantara bintang bintang yang redup..
Wahai Sangeang, engkau telah menyia nyiakan harapanku, engkau tahu dan paham betul orang yang ditinggalkan karena merasa cintanya dikhianati akan menangis, merintih, dalam keperihan, tapi aku tidak. Perpisahan ini hanya sebuah babak baru yang akan berlalu, akan berubah dengan kisah hidup selanjutnya. Harapan untuk hidup ini masih panjang, harapan adalah bayangan nafas kehidupan. Sangeang silahkan pergi, dan selamat jalan. Karena cinta kita tak bisa di paksakan, biarlah cinta ini akan terlupakan tanpa kenangan. Dengan pengalaman ini membuat aku bertahan dan akan ku langkahkan kaki ini menuju masa depan yang lebih cemerlang, dan pada saat yang sama dapat aku buktikan bahwa aku bukan mangsa dalam cakarmu yang bisa bertahan hidup tanpamu.

Kehormatan Seorang Budak Wanita

JUDUL : KEHORMATAN SEORANG BUDAK WANITA.
HARGA ; Rp. 20.000.
YANG BERMINAT HUB. WIRASANDI RISANI
NO.HP 085103481919
NO.REK. 1520014105130 BANK MANDIRI
AN. WIRASANDI.....

SUNTINGAN KISAH
I TENRIPADA DIHUKUM
Hari itu petta Paddanreng mendengar kalau ada wanita budak yang menikam putera Pabbicara. Hal ini menarik perhatiannya karena selama ini belum pernah terjadi seorang budak melawan tuannya, apalagi seorang wanita budak, ini rasanya aneh sekali. Maka sore harinya I Tenripada dipanggil menghadap oleh Paddanreng Majauleng La Tenritau. Setelah I Tenripada datang kemudian ia duduk dibawah, dihadapan Paddanreng Majauleng.
Kemudian Paddanreng bertanya : Siapa namamu .?
I Tenripada “puang”
Paddanreng bertanya : Dimana kau tinggal ?.
I Tenripada: Hamba ikut tinggal ditempat bibi Indo Wellang “puang” yang bekerja diistana puang sebagai pelayan.
Paddanreng meng angguk anggukkan kepalanya, kemudian lanjut bertanya, Mengapa sampai kamu bisa membawa badik, sehingga engkau bisa menikam orang ?.
I Tenripada, Mohon maaf “puang”, membawa badik bila keluar rumah sudah menjadi keharusan bagi hamba untuk berjaga jaga untuk bela diri.
Paddanreng lanjut bertanya : Kenapa dengan membawa Badik bila keluar rumah sebagai sebuah keharusan bagimu, untuk membela diri.
Tenripada menjawab : Mohon maaf puang, hamba ini seorang budak “puang”, yang pastinya mudah mendapat perlakuan yang kurang baik, dari laki laki atau orang orang yang diatas derajat hamba. Maaf puang” Walaupun hamba ini seorang budak, tapi hamba merasa memiliki harga diri dan kehormatan. Harga diri dan kehormatan itulah hanya satu satunya milik hamba melebihi harga nyawaku. Karena itu puang kalau harga diri dan kehormatanku ini akan diambil , tentunya nyawaku yang harus lebih dahulu diambil.
Paddanreng kembali meng-angguk anggukan kepalanya, sambil dalam hatinya berkata, ini wanita, walaupun ia budak tapi dalam mempertahankan harga diri dan kehormatannya, tidak kurang dari dirinya.
Paddanreng bertanya lanjut, : Melihat umurmu masih sangat muda, darimana kamu tahu tentang nilai sebuah harga diri dan kehormatan ?.
I Tenripada menjawab ; Mohon maaf “Puang”, hamba banyak diajarkan oleh bibi hamba “Puang”,
Paddanreng bertanya lagi : Apa saja yang diajarkan bibimu tentang hal harga diri dan kehormatan ?.
I Tenripada menjawab : Mohon maaf puang”. Menurut bibi hamba “Puang” bahwa, kami ini orang Bugis apalagi seorang wanita, adalah sebagai simbol kehormatan apapun statusnya. Untuk itu setiap wanita wajib bagi dirinya untuk memegang teguh prinsip hidup yang dinamakan “Siri”.
Paddanreng terharu sejenak mendengar itu, dan kembali bertanya : Apa yang kamu ketahui tentang “Siri”.
I Tenripada menjawab : Mohon maaf “Puang”. Apa yang disampaikan bibi pada hamba bahwa sesungguhnya “Siri” itu sebenarnya tidak mengenal hamba dan “Puang”, Hanya karena “Puang menjaga “Siri” ku, maka aku menghamba pada “Puang”,. Bilamana “Puang” mencabutnya, maka gugurlah diriku sebagai hamba, dan aku tidak memperdulikan lagi “Puang”. Karena itu hanya dengan menjaga ‘Siri” kita disebut manusia dan hanya “Siri” yang menentukan seseorang manusia atau bukan manusia, sebab itu bagi orang Bugis wajib memegang teguh prinsip ini, sebab “Siri” itu Jiwa taruhannya, Nyawa imbalannya.
Paddanreng kembali termangu dan tidak bisa berkata lagi, namun dalam hatinya berkata, : Anak ini pasti, epertinya bukan turunan budak.
Sementara itu disebuah sudut ruangan itu, nampak sepasang mata seorang pemuda sedang mengintip dan menguping, yang tidak lain adalah putra Paddanreng. Matanya seperti tidak mau berkedip melihat seorang gadis yang begitu cantik, sambil dalam hatinya berkata, saya tidak pernah menyangka kalau ada bunga yang begitu sangat menawan berada dalam lingkungan istanaku. Lanjut dalam hatinya berkata, tapi walaupun ia seorang budak dan saya adalah anak raja, tapi nampaknya tidak mudah untuk mendekatinya. Karena itu untuk mendekatinya butuh kehati hatian.
Selanjutnya Paddanreng berkata, apakah kamu sudah tahu sangsi hukum yang akan kamu dapat nantinya ?.
I Tenripada : Hamba belum tahu puang.
Paddanreng, : Bagaimana perasaanmu bila hukumanmu nantinya berat.
I Tenripada : Mohon maaf “Puang” Kalau memang demikian “puang” Walaupun hamba ini seorang budak, “puang”. Tapi hamba tidak menyesal, karena saya telah berhasil mempertahankan harga diri dan kehormatanku puang.
Paddanreng yang mendengar itu, langsung tertunduk kembali dan termangu mangu.
Sementara itu La Pasampoi putera Paddanreng yang berada dibalik dinding berkata dalam hatinya :
Engkau yang dilahirkan dengan nasib sebagai budak
Wahai tawanan wanita yang terlempar ke dalam kegelapan.
Karena kesalahan kecil yang kau buat karena terpaksa.
Karena kau ingin mempertahankan hak kehormatanmu.
Wahai wanita muda yang malang.
Walaupun Tuhan telah menganugerahkan kecantikan.
Namun engkau tidak bisa merubah takdirmu..
Di tanganmulah nasibmu engkau tentukan.
Mudah mudahan engkau bukan korban.
Dari para martir hukum buatan manusia.
Sebab walaupun aku seorang raja, tapi aku tak kuasa.
Ketika harus berhadapan dengan hukum adat.
Mudah mudahan Kebenaran akan mengoyak tabir airmatamu
Yang menyembunyikan senyumanmu.
Setelah itu I Tenripada disuruh meninggalkan tempat, dan kembali ke biliknya.
Keesokan harinya, diselenggarakanlah pengadilan bagi I Tenripada. Dan Pabbicara La Maddualeng, ayah Sadapotto yang mengadili, perkara penikaman putranya oleh I Tenripada, sebelumnya ia diliputi, kegelisahan mengingat perkara tersebut menyangkut putranya, ia menjadi bingung memutuskan perkara. Namun sebelum memasuki ruang sidang, ia kembali mengambil keputusan bahwa, ia harus mengadili perkara ini dengan se- adil adilnya, demi harga diri dan kehormatannya sebagai hakim. Walaupun perkara ini menyangkut putraku. Apalagi ketentuan dalam hukum adat bahwa “ Hukum tidak mengenal anak atau cucu”

I Dinarnia

JUAL E-BOOK
JUDUL : SUFI WANITA I DINARNIA.
HARGA ; Rp. 20.000.
YANG BERMINAT HUB. WIRASANDI RISANI
NO.HP 085103481919
NO.REK. 1520014105130 BANK MANDIRI
AN. WIRASANDI.....

AWAL KISAH
Sebuah perahu sedang berlayar menuju Ternate Maluku, namun karena berhari hari perahu tersebut kurang mendapat tiupan angin akhirnya perahu itu dibawa ombak masuk di teluk Bone. Namun naas bagi perahu tersebut, karena tidak dapat dikendalikan akhirnya menabrak karang, dekat muara sungai Walennae, sehingga perahu tersebut pecah, dan seluruh penumpangnya berusaha menyelamatkan diri. Salah satu penumpangnya adalah seorang pedagang berkebangsaan Persia bersama 2 orang anak buahnya, juga ikut menyelamatkan diri beserta harta emasnya. Dengan berjalan menyusuri sungai, dengan harapan akan mendapatkan perkampungan. Dan selang berapa hari pedagang tersebut berhasil menemukan sebuah perkampungan bernama Lagosi. Dengan bahasa isyarat kemudian ia menceriterakan kalau perahunya pecah karena terbentur karang. Adapun Lagosi merupakan salah satu kampung yang masuk dalam wilayah kerajaan Cina Pammana dahulu kala, yang saat ini telah masuk dalam kabupaten Wajo Sulawesi selatan. Setelah penduduk setempat mengetahui kalau orang asing itu kena musibah, sehingga beberapa penduduk menawarkan rumahnya untuk tempat tinggal sementara. Selang beberapa hari kemudian orang asing itu minta dibuatkan rumah seperti rumah penduduk yang ada. Hal ini dikarenakan ia merasa akan tinggal lama ditempat itu, mengingat belum ada tanda tanda kalau nantinya ada perahu yang bisa membawanya pulang ke kampung halamannya.
Setelah beberapa bulan orang asing itu tinggal di Lagosi, iapun sudah bisa berbahasa Bugis, sehingga sudah enak baginya berkomunikasi dengan penduduk setempat. Pada suatu hari seorang bernama La Pajung pemilik rumah yang ditinggali memberanikan diri untuk bertanya tentang apa yang dilakukan setiap hari dengan membaca bacaan,rukuk, sujud itu.
Orang asing itu bernama Khutub Khan menjawab, apa yang saya lakukan itu namanya menyembah kepada Tuhan yang namanya Allah. Apakah juga kamu ada tuhan bernama Allah?. kata Khutub Khan
La Pajung berkata, apa itu Tuhan Allah ?
Khutub Khan menjawab, tuhan Allah itu, yang menciptakan seluruh alam semesta beserta machluk termasuk manusia, seperti kita ini.
La Pajung berkata : kami juga punya Tuhan, namanya Dewata seuwae (Tuhan yang esa), yang juga menciptakan alam dan manusia. Tapi kenapa tuan saya lihat melakukan penyembahan itu setiap hari ?.
Khutub Khan, menjawab : Itu adalah tata cara menyembah kepada Tuhan yang disebut shalat, dimana setiap hari dan malam saya lakukan, untuk selalu mengingatnya dengan memohon keselamatan, kesehatan, rezeki, dan lain lain. Disamping itu sebagai rasa syukur atas apa yang diberikan termasuk nikmat yang diberikannya. Apakah kamu juga punya tata cara menyembah kepada Tuhanmu ?
La Pajung, kami tidak punya tata cara menyembah kepada Tuhan, karena Tuhan kami tidak butuh untuk disembah, dan biasanya kami hanya mengucapkan rasa syukur atas hasil padi yang sudah dipanen, dengan melakukan upacara yang disebut Maddupa Dewata (Menyambut Tuhan) dan urusan itu, sudah ada yang mengaturnya yang namanya Bissu. Bissu itulah yang menyampaikan segala urusan kami kepada Dewata seuwae, terutama yang menyangkut masalah keselamatan termasuk menyelamatkan tanaman yang kami akan makan.
Khutub Khan , apakah Bissu itu seorang Nabi ?
La Pajung, apa itu Nabi ?.
Khutub Khan berkata, Nabi itu adalah utusan Tuhan kebumi ini untuk membimbing manusia kejalan yang benar.
La Pajung berkata : Kami juga punya Nabi namanya Opu Naware.
Khutub Khan, kalau nabi kami namanya Muhammad.
La Pajung kalau begitu sama saja dengan kami, hanya nama nama saja yang berbeda, kalau Tuhanmu namanya Allah, nama Tuhan kami hanya sebutan Dewata Seuwae saja (Tuhan yang esa), kalau nabi tuan namanya Muhammad, nama nabi kami namanya Opu Naware. Tuhanku tak berwujud, tidak dapat dijangkau dengan pikiran, tidak dapat dihayalkan mengenai wujudnya, jadi hanya ada keyakinan yang bersemi dalam hati. Oleh karena itu, kami kira Tuhan tuan juga demikian adanya. Bahkan ada perbedaan antara Tuhan tuan dengan Tuhan kami, pada penamaan. Kalau Tuhan tuan jelas punya nama yang tuan sebut Allah, sementara Tuhan kami tidak punya nama, hanya disebut saja Dewata seuwae, tapi itu bukan nama. Disamping itu, tuan setiap hari menyembah, sementara kami tidak perlu menyembah, karena yang penting bagi Tuhan kami ialah kami tidak boleh sekali kali berbohong, tidak boleh berbuat jahat, harus saling tolong menolong, itulah sebenarnya barangkali bentuk penyembahan kami, karena mentaati semua yang diperintahkan dan tidak berbuat apa yang dilarang.
Khutub Khan berkata : Darimana kamu tahu semua itu ?.
La Pajung menjawab : Itulah yang diajarkan oleh nenek moyang kami secara temurun yang tidak boleh dilanggar.
Khutub Khan : Disinilah bedanya antara ajaranmu dengan ajaran kami yaitu, kami punya kitab suci namanya Al Qur’an, yang isinya adalah kata kata Tuhan kami, yang disampaikan oleh yang namanya Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad untuk disampaikan kepada seluruh ummat manusia. Yang intinya adalah seruan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan nabi Muhammad adalah rasulnya atau yang memberi petunjuk. Termasuk yang kamu sebutkan tadi.
La Pajung, sama saja tuan dengan ajaran kami, karena kami juga punya kitab ajaran, namun kitab tersebut ada pada Bissu. Disamping itu kami juga memiliki macam macam Dewa yang tuan sebut Malaikat. Kalau Dewa itu Malaikat bagi kami maka Dewata seuwae itu adalah Tuhan kami.
Khutub Khan berkata, tapi tidak kah kamu ingin mengenal lebih dalam lagi tentang ajaran kami.
La Pajung berkata, mohon maaf kami sudah mapan dengan keyakinan kami yang juga telah dianut oleh nenek moyang kami sejak dari dulu. Sebab bagi kami agar Dewata seuwae tidak murka kepada kami, maka kami tidak boleh berbohong, harus berlaku jujur dan berlaku baik terhadap sesama manusia, serta jangan merusak alam.
Khutub Khan, Bagaimana kamu tahu kalau Tuhanmu itu murka ?.
La Pajung menjawab, bahwa kalau Dewata seuwae murka, biasanya berjangkit wabah penyakit, atau tanaman padi gagal panen, dan lain lain yang bisa menyengsarakan hidup kami.
Khutub Khan berkata, baiklah kalau begitu, sambil dalam hati Khutub Khan berkata, kalau di daerah ini rupanya tidak bisa dipengaruhi, sehingga ajaran Islam tidak bisa dikembangkan. Karena itu saya harus berusaha cari cara lain untuk mengembangkan ajaran Islam disini, sambil menunggu perahu yang bisa mengantarkan aku pulang ke negeriku. Karena itu ada baiknya aku beristeri saja, barangkali dengan jalan beristeri aku bisa pengaruhi mereka secara pelan pelan.